Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

Selasa, 19 April 2011

Waktu Kita, Habis Dimana ?

by pak cah on April 17, 2011

Kita sering mendengar orang mengeluh soal waktu yang sangat terbatas. Waktu yang sangat sempit. Waktu yang pendek, sehingga banyak pekerjaan tidak bisa terselesaikan karena kekurangan waktu. Kita sering mendengar keluhan kemacetan lalu lintas Jakarta, yang menyebabkan waktu terbuang di jalanan. Waktu habis karena terjebak kemacetan ibukota Jakarta. Kalau di daerah, orang mengeluh soal lamanya menunggu angkutan umum, karena masih sangat jarang jumlahnya.
Ternyata, untuk bisa menghormati waktu memerlukan kelengkapan sarana dan prasarana. Memerlukan keterpaduan pengelolaan dalam segala aspeknya. Di antara hal yang bisa menghemat waktu adalah kualitas informasi di tempat umum dan di fasilitas publik. Bus kota kita belum memiliki jadwal yang pasti kapan berangkat dan kapan tibanya. Kereta api kita sudah relatif memiliki jadwal, namun belum bisa memenuhinya. Di bandara, stasiun dan terminal, masih belum cukup ramah untuk penghematan waktu.
Satu lagi catatan yang sangat berkesan bagi saya selama di Amerika dan Kanada, yaitu tetang “informasi yang informatif”. Sebagai orang kampung yang baru pertama kali menginjakkan kaki ke negeri adidaya, wajar jika memiliki sejumlah kekhawatiran. Misalnya, apakah akan lancar dan aman saja selama berpindah dari satu negara bagian ke negara bagian lainnya ? Semula, saya sempat khawatir tentang kelancaran perjalanan, karena belum memiliki gambaran tentang suasana bandara di Amerika dan Kanada.
Semua kekhawatiran itu akhirnya lenyap ketika untuk pertama kalinya saya transit di bandara Phoenix, dalam perjalanan dari San Fransisco menuju Houston. Alhamdulillah, pengalaman pertama ini membuat saya semakin percaya diri bahwa tidak ada kesulitan untuk mencari gate keberangkatan pesawat menuju Houston. Semua bagian bandara sangat informatif, sehingga tidak akan tersesat di dalam lingkungan bandara selama mau memperhatikan tanda-tanda. Akan mencari toilet, atau mencari lokasi bagage claim, atau mencari pintu keberangkatan, atau mau menuju pintu keluar, semua ada petunjuk yang sangat informatif.
Bandara Phoenix sangat luas dan terasa sangat panjang jarak menuju pintu keberangkatan pesawat transfer. Namun karena suasana sangat informatif, maka menjadi tidak ada kesulitan untuk menemukan lokasi pintu keberangkatan dimaksud.       Demikian juga saat transit di bandara Atlanta. Menuju pintu keberangkatan berikutnya, bisa dilakukan dengan membaca petunjuk arah yang sangat jelas dan ada di setiap bagian ruang dalam bandara. Saat petunjuk arah membawa saya ke bagian lantai bawah, ternyata jalannya buntu. Buntu ? Ya, karena itu adalah pintu untuk menaiki kereta api bawah tanah yang membawa kita menuju pintu keberangkatan dan bagage claim.
Di dalam kereta api bawah tanah inipun suasananya sangat informatif, karena ada tulisan mengenai nama tempat pemberhentian berikutnya, misalnya Gate A. Bukan hanya trulisan, namun juga disertai dengan suara pemberitahuan. Saat kereta sudah berhenti, ada tulisan yang menyatakan bahwa sekarang ini kita berada di Gate A, juga disertai suara, sehingga penumpang yang akan menuju Gate A turun di tempat ini. Menjelang berjalan, muncul tulisan lagi bahwa tempat pemberhentian berikutnya adalah Gate B. Begitu seterusnya, kereta api bawah tanah yang khusus melayani penumpang pindah pintu keberangkatan di dalam lingkungan bandara ini tidak akan menyebabkan orang salah turun selama mau membaca atau mendengarkan suara informasi di dalamnya.
Suasana bandara seperti ini sudah barang tentu sangat membantu semua penumpang. Fasilitas yang ada di dalam bandara secara umum juga sangat membantu kelancaran perjalanan. Misalnya saja toilet, disediakan sangat banyak toilet sehingga penumpang tidak akan kesulitan mencarinya. Di lokasi setiap toilet, biasanya dibagi menjadi tiga bagian. Ada toilet khusus laki-laki, toilet khusus perempuan dan toilet untuk keluarga. Ini juga menandakan perhatian yang besar terhadap kenyamanan penumpang. Namun yang tidak pernah ada di setiap bandara adalah mushalla, karena Amerika tidak memiliki kepedulian terhadap ritual ibadah. Anda harus pandai-pandai mencari tempat untuk shalat, karena memang tidak ada tempat khusus di seluruh area bandara.
Pengalaman saat ketinggalan pesawat juga berkesan bagi saya. Pesawat Delta yang membawa saya dari Washington DC menuju Los Angeles dengan transit di Atlanta mengalami keterlambatan hampir satu jam. Dampaknya saya ketinggalan pesawat sektor Atlanta – LA. Ini pengalaman pertama ketinggalan pesawat di Amerika. Kuncinya dua : tenang, dan mencoba membaca informasi. Memasuki pintu keberangkatan di bandara Atlanta, sudah ada informasi bahwa pesawat Delta menuju LA sudah terbang. Saya bersikap setenang mungkin.
Setelah saya cari informasi melalui papan tulisan atau peralatan yang ada di sekitar pintu keberangkatan, tampak ada sebuah alat kecil semacam alat scan, yang ada informasi agar kita men-scan boarding pass. Segera saya scan boarding pass yang saya miliki, benar, tercetak boarding pass baru. Luar biasa cepatnya sistem ini bekerja. Tertinggal pesawat, langsung dicarikan pesawat berikutnya. Ini merupakan bentuk pertanggungjawaban dan pelayanan optimal untuk melancarkan perjalanan. Dan yang lebih menarik lagi adalah, semuanya sangat informatif. Saya tidak memerlukan bertanya kepada siapapun untuk menemukan dan menggunakan mesin itu.
Suasana di dalam sarana transportasi umum juga sangat informatif. Di dalam setiap kereta api atau bus umum, terdapat penjelasan tertulis maupun dengan suara, mengenai tempat-tempat pemberhentian. Selama penumpang memperhatikan tulisan atau suara pemberitahuan, rasanya tidak akan salah turun. Situasi ini sangat membantu kelancaran perjalanan dan membuat penumpang tidak kesulitan mencari tempat tujuan.
Betapa nyaman dan lancar perjalanan dan kegiatan kita, jika di berbagai tempat dan fasilitas umum memiliki tingkat informasi yang sangat akurat seperti itu. Tidak membingungkan, tidak menyulitkan. Saya ingat saat berkegiatan di Taiwan, bulan Ramadhan tahun 2007 yang lalu. Suasana stasiun MRT (kereta api) Taipei, masih sangat kental huruf China, sehingga menyulitkan masyarakat pendatang yang tidak bisa membaca tulisan China. Pak Sutrisno yang menjemput saya di stasiun Taipei sampai berkeringat untuk mendapatkan lokasi kereta api yang hendak kami naiki.
Tiket MRT sudah dibawa pak Sutrisno, namun suasana stasiun tidak cukup informatif. Kami kebingungan kereta yang manakah yang sesuai tiket kami ? Stasiun MRT ada dua lantai. Ada banyak kereta di lantai atas, ada banyak pula kereta api di lantai bawah. Kereta yang mana dan yang ke arah mana ? Membaca tulisan, tidak bisa kami lakukan karena penjuh huruf China. Bertanya juga tidak bisa, karena petugas tidak bisa berbahasa Inggris. Saya dan Pak Sutrisno sampai berlari-lari menuju arah yang ditunjukkan oleh petugas, dan setiap bertanya dengan bahasa Inggris selalu dijawab dengan tunjukan tangan petugas mengarahkan kita menuju arah tertentu. Celakanya, arah yang ditunjukkan setiap petugas berbeda-beda, bahkan berlawanan.
Dampaknya kami ketinggalan MRT sesuai tiket. Namun tidak masalah, tiket tidak hangus, karena ada mesin untuk menukarkan tiket MRT dengan tiket MRT pada jam berikutnya. Setelah lelah bertanya dan lelah berlari mencari kereta, akhirnya dapat juga MRT-nya. Lega sekali bisa memasuki MRT sesuai tiket yang kami miliki. Namun tampak, bahwa suasana stasiun Taipei  tidak cukup informatif dan petugas tidak cukup membantu orang asing yang kebingungan. Saya sampai kasihan melihat Pak Sutrisno berkeringat membanjiri tubuh karena berlarian mencari posisi MRT.
Bangsa yang bisa menghormati waktu, tampak pada berbagai pelayanan publik yang dimilikinya. Anda akan melihat semua jam dinding yang dipasang di stasiun Shinkanzen di Tokyo, sama persis angkanya. Demikian pula, jam di dalam kereta cepat Shinkanzen, sama dengan yang dipasang di setiap stasiun yang dilewatinya. Dari awal keberangkatan, kita sudah mengetahui jam berapa Shinkanzen tiba di Osaka, jam berapa tiba di Hiroshima, jam berapa tiba di Fukuoka dan seterusnya. Ternyata semua tepat, sesuai jadwal yang tertera.
Bandara yang informatif, akan membuat kita bisa menghemat waktu. Transportasi umum yang informatif, juga membuat kita sangat hemat waktu. Tidak ada waktu yang kita habiskan untuk kebingungan atau bertanya-tanya kepada orang. Tidak ada waktu yang kita buang karena tersesat atau salah turun di stasiun yang bukan tujuan. Semua pertanyaan sudah terjawab oleh papan informasi atau pengumuman. Ini bentuk penghormatan atas waktu, bahwa waktu kehidupan kita sangat berharga. Jangan sampai terbuang untuk hal-hal yang tidak berguna atau tidak seharusnya.
Coba kita perhatikan, sesungguhnya waktu kita habis dimana ?
Ohio State, Maret – Yogyakarta, April 2011

0 komentar:

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates