Jumat, 22 April 2011

KITA BEKERJA UNTUK SIAPA ?

Oleh : Cahyadi Takariawan

Tidak pernah bosan saya mengajak anda semua untuk selalu berbuat kebaikan, semaksimal kemampuan yang bisa kita lakukan. Ajakan ini sesungguhnya untuk menyemangati diri sendiri, dan mengingatkan diri ini, agar selalu melakukan hal terbaik yang bisa kita lakukan. Sejarah hidup yang teramat pendek jangan disia-siakan dengan aktivitas yang tidak memberi kontribusi bagi kebaikan. Namun, ada catatan tebal yang harus selalu kita ingat : kita bekerja dan berbuat baik, untuk siapakah ?
Suatu saat anda menolong tetangga yang sedang mengalami kesulitan. Dengan penuh perasaan tanggung jawab anda membantunya, anda memberikan pertolongan yang sangat diperlukannya. Pada kesempatan yang lain, tetangga tersebut memerlukan pertolongan lagi. Bergegas anda memberikan bantuan. Berkali-kali anda mendatangi rumahnya, dan memberikan bantuan yang sangat bermanfaat baginya. Lagi dan lagi, tidak bisa dihitung berapa banyak anda menolongnya. Tidak bisa diingat lagi berapa kali anda berbuat baik kepadanya.
Namun bukannya ucapan terimakasih yang anda dapatkan. Tetangga tersebut justru menyebarkan fitnah kemana-mana, justru menjelek-jelekkan anda di hadapan warga, bahwa anda terlalu pelit untuk menolong. Anda dianggap tidak ikhlas membantu, dan sangat individualis. Anda dianggap tidak memiliki kepedulian terhadap kondisi tetangga. Ramailah gosip di antara tetangga, menyebar berita negatif tentang anda. Akhirnya anda menjadi selebritis di lingkungan tempat tinggal, karena banyak dibicarakan orang.
Sedih bukan main rasa hati anda. Rasanya sudah tidak kurang anda membantu tetangga tersebut dalam berbagai kesulitan hidupnya. Lalu mana imbalan baiknya ? Mana ucapan terima kasihnya ? Mana apresiasi positifnya ? Mengapa justru ia melempar fitnah dan tuduhan kemana-mana ? Saat mengalami kejadian seperti itu, apa yang akan anda lakukan ?
“Kalau begitu, selamanya saya tidak akan membantu dia lagi. Tidak ada gunanya saya membantu orang yang tidak mengetahui balas budi”.
“Menyesal sekali saya membantunya selama ini. Ternyata dia orang yang tidak layak dikasihani, justru sekarang dia memusuhi”.
“Anda saja saya tidak membantunya selama ini, itu akan lebih baik bagi saya. Karena sudah banyak membantu, masih juga difitnah”.
Sayang sekali jika seperti itu ungkapan anda. Sungguh, anda telah kalah di titik itu. Jika kita bekerja dan berbuat baik dengan penuh harapan akan mendapatkan apresiasi positif dari manusia, bisa dipastikan kita akan mengalami kekecewaan yang teramat fatal. Karena bisa jadi, pekerjaan dan perbuatan baik tersebut tidak mendapatkan apresiasi seperti yang kita harapkan. Bahkan ada kalanya, mereka yang mendapatkan kebaikan dari kita, justru menjadi orang yang membenci dan memusuhi kita. Orang yang paling banyak kita bantu, bisa jadi justru paling memusuhi dan membenci kita.
Baiklah, kita tidak perlu merinci sebab-sebabnya, mengapa apresiasi yang kita harapkan ternyata tidak selalu sesuai dengan kenyataan. Tidak perlu kita korek sebab-sebabnya. Namun kita lebih fokus kepada pertanyaan yang lebih substansial, untuk siapakah kita berbuat kebaikan ? Untuk siapakah kita bekerja ? Jika mengharap balasan kebaikan dari manusia, ingatlah manusia itu sangat lemah dan penuh keterbatasan. Tidak mungkin akan bisa memberikan apresiasi yang memadai sesuai dengan kadar kebaikan yang kita berikan.
Saya mengingatkan diri sendiri dan anda semuanya, mari bekerja untuk Sang Pencipta Manusia. Tuhannya manusia. Pemilik dan Penguasa alam semesta. Dialah Tuhan, Allah Yang Maha Kuasa. Dialah Dzat Yang Maha Sempurna. Yang bisa memberikan apresiasi secara tepat dan adil. Yang bisa memberikan balasan bahkan secara berlipat, dan tanpa batas. Yang tidak pernah memiliki kekurangan. Yang tidak memiliki keterbatasan. Dia Maha Membalas segala perbuatan. Sekecil apapun kebaikan, ataupun keburukan. Dia sangat teliti dan jeli.
Mungkin anda adalah tokoh masyarakat, yang telah banyak berbuat kebaikan untuk membangun masyarakat di desa anda. Puluhan tahun anda bekerja untuk memajukan masyarakat, berjuang untuk membangun ekonomi, sosial dan budaya masyarakat. Anda kerjakan siang dan malam, tanpa mengenal lelah. Anda mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, harta benda dan semua fasilitas yang anda miliki demi kebaikan masyarakat desa. Puluhan tahun anda berada di tengah mereka mengajak melakukan kebaikan dan hasilnya sedikit demi sedikit mulai terasakan. Perlahan namun pasti, kondisi wilayah anda semakin membaik, semakin maju, semakin kondusif.
Namun jangan anda kecewa, jika anda maju dalam pemilihan kepala desa, ternyata bukan anda pemenangnya. Orang lain telah terpilih menjadi pemenang, dan orangnya biasa saja. Anda merasa sangat heran, bagaimana ada orang yang tidak ikut dalam perjuangan puluhan tahun di desa itu, namun justru menjadi pemenang dalam pemilihan kepala desa ? Anda merasa telah menjadi tokoh yang sangat dikenal masyarakat desa melalui perjuangan panjang yang anda lakukan, namun tidak menghasilkan suara signifikan dalam pemilihan.
Yang bisa lebih menyakitkan bagi anda, ternyata ada sebagian warga desa yang melakukan black campaigne terhadap anda. Menjelek-jelekkan anda, menjatuhkan nama anda, mengajak masyarakat membenci dan akhirnya tidak memilih anda. Sedih sekali rasanya, anda merasa telah menghabiskan puluhan tahun yang panjang untuk perjuangan, namun orang lain telah menikmati hasilnya. Anda merasa dicampakkan dan dibuang secara hina ke tong sampah. Di masa tua, ternyata anda tidak mendapatkan posisi yang mapan.
Dengan marah dan penuh emosi, anda berbicara di hadapan masyarakat desa. “Jika tidak ada saya, desa ini masih tertinggal, kumuh dan kotor. Sayalah yang telah berjuang tiga puluh tahun membangun desa ini. Dulu tidak ada orang yang mau berjuang, semua saya lakukan sendirian. Ternyata kalian tidak menghargai perjuangan saya. Sia-sia semua yang sudah saya lakukan untuk kalian”.
Sayang sekali jika anda menyesali semua tumpukan kebaikan yang telah anda usahakan puluhan tahun. Tetas keringat dan air mata telah anda relakan mewarnai detik-detik perjuangan yang sangat panjang. Melelahkan, dan semua telah Allah berikan catatan balasan berupa pahala kebaikan atas segala detail usaha serta jerih payah anda. Keringat anda, rasa lelah anda, air mata anda, bermalam-malamnya anda, pengorbanan anda, semua telah Allah tetapkan balasan kebaikan. Telah Allah tuliskan pahala atas segala amal anda. Jangan anda merusak dan menghapus pahala kebaikan itu dengan rasa penyesalan dan rasa kesia-siaan. Jangan, karena itu potensial merusakkan nilai amal kebaikan anda.
Mungkin anda adalah tokoh dalam sebuah organisasi dakwah. Sejak awal mula berdirinya organisasi, anda termasuk perintisnya. Anda mengetahui segala suka duka merintis dan membesarkan organisasi dakwah, semua penuh perjuangan yang melelahkan. Berbagai tantangan dan hambatan terus menghadang sejak awal pendirian, dan anda termasuk tokoh yang gigih berjuang menghidupi organisasi. Sekian banyak kekurangan dan kelemahan anda hadapi bersama rekan-rekan seperjuangan, di masa-masa sulit anda mampu bertahan dan tegar dengan banyaknya ujian berupa kesulitan.
Anda relakan meninggalkan anak isteri, berlama-lama melakukan perjalanan ke berbagai daerah. Anda relakan meninggalkan pekerjaan, demi perjuangan menyebarkan usaha dakwah ke berbagai tempat. Sampai ke pelosok, sampai ke pedalaman, sampai daerah terpencil. Menyeberang sungai, mendaki bukit, menaiki sepeda motor tua, kadang berjalan kaki puluhan kilometer. Menyeberang laut dengan menaiki kapal kelas super ekonomi, tanpa membawa bekal yang berarti. Sementara keluarga yang di rumah juga tidak dicukupi dengan keperluan hidup sehari hari. Tawakal kepada Allah, dan Allah Maha Mencukupi.
Kini organisasi dakwah anda sudah membesar. Pengurus dan kader sudah bertebaran di seluruh pelosok tanah air. Tidak pernah terbayangkan oleh anda, bahwa organisasi dakwah yang anda rintis tigapuluh tahun yang lalu itu akhirnya tumbuh berkembang, membesar, menjadi sebuah kekuatan yang sangat membanggakan. Terasa lega, bahwa hasil perjuangan panjang itu mulai kelihatan buahnya. Tiga puluh tahun yang lalu, organisasi yang anda rintis itu tidak dikenal siapa-siapa, tidak dipedulikan siapa-siapa, bahkan banyak diejek dan ditertawakan, namun dengan sabar anda tetap membersamainya. Kini organisasi itu telah menjelma menjadi idola, banyak dielu-elukan dan diakui kebesarannya.
Namun, sesuatu terasa mengganjal bagi anda. Perjuangan yang telah anda jalani puluhan tahun itu ternyata tidak mendapatkan apresiasi dari petinggi organisasi. Beberapa orang generasi awal yang merintis organisasi bersama anda, kini telah menempati posisi penting. Mereka memiliki kehidupan yang sangat layak, berbeda dengan anda. Seorang teman anda, sesama generasi perintis organisasi, memiliki rumah mewah, mobil mewah, dan fasilitas kehidupan yang sangat mencukupi. Anak-anaknya sekolah dan kuliah di luar negeri. Isterinya tampak mengenakan perhiasan warna warni. Tersulutlah rasa iri, mengapa jauh berbeda seperti ini ?
Anda hanyalah seorang tua yang berjalan kaki. Rumah anda sangat sederhana di pinggiran kota. Sepeda motor anda seusia perjuangan yang telah anda jalani. Bahkan anda kesulitan membiayai sekolah dan kuliah anak-anak anda, jangankan ke luar negeri. Sekolah di kampung sendiri saja demikian berat membiayai. Hidup anda hingga kini masih penuh dinamika perjuangan, sementara anda lihat generasi seperjuangan anda telah berada pada posisi kemapanan.
Marah sekali rasa hati anda. Geram, anda menggoreskan kata-kata, menuliskan kegelisahan. “Organisasi dakwah ini besar karena perjuangan yang saya lakukan. Jika tidak saya hidupi organisasi ini tiga puluh tahun yang lalu, tidak akan menjadi sebesar ini. Saya telah habiskan semua yang saya punya, telah saya sumbangkan apa yang melekat pada diri saya dan isteri saya. Tanah saya jual, perhiasan istri kami relakan terjual, semua demi kelangsungan hidup organisasi. Pekerjaan tetap di perusahaan saya tinggal, agar saya bisa berkhidmat untuk organisasi, padahal dulu saya mendapatkan gaji besar dari perusahaan. Semua saya relakan demi membesarkan organisasi ini”.
“Namun setelah organisasi ini membesar, kalian campakkan saya begitu saja. Rasanya seperti menjadi orang terbuang, menjadi orang yang tidak memiliki arti sama sekali. Kalian telah menjadi orang yang lupa diri, kalian hidup bermewah sementara saya hidup seperti sampah. Menyesal sekali saya telah ikut membesarkan organisasi ini. Sia-sia semua perjuangan yang saya lakukan, jika akhirnya hanya seperti ini. Brengsek semua kalian ini, tidak bisa menghargai jasa para pendiri”.
Marah, gemas, geram, dendam. Bercampur baur antara kecintaan dengan kebencian. Anda melontarkan sumpah serapah, mengungkit-ungkit jasa dan kebaikan yang sudah anda lakukan tiga puluh tahun. Anda menyesali kebaikan yang sudah anda lakukan, berupa perjuangan panjang, berupa berlelah-lelah, berjalan siang dan malam ke berbagai wilayah, berjaga malam untuk merancang dan mengaplikasikan strategi. Anda merasa tidak dihargai dan tidak mendapatkan apresiasi yang memadai.
Anda ungkit tanah yang dulu anda jual, sepeda motor yang digadaikan, perhiasan isteri yang disumbangkan, perabotan rumah yang digunakan melengkapi perkantoran. Anda ungkap kembali waktu yang telah anda curahkan, tenaga yang telah anda baktikan, pikiran yang telah anda sumbangkan. Tigapuluh tahun perjuangan bukanlah waktu yang sedikit, jelas itu masa yang panjang. Anda ungkit itu semua, demi mendapatkan pengakuan dan apresiasi. Anda merasa telah terzhalimi.
Tidak, anda tidak boleh seperti itu. Anda tidak layak mengungkit dan menyesali amal kebaikan yang telah Allah tetapkan pahala berlipatnya. Anda tidak boleh merasa sia-sia terhadap segala langkah perjuangan anda puluhan tahun membesarkan organisasi dakwah, dengan segala kesulitan dan hambatan, dengan segala keringat, darah dan air mata. Anda tidak boleh meratapi sejarah yang telah anda torehkan dalam membesarkan organisasi. Jangan lakukan, karena itu semua potensial merusakkan amal kebaikan anda. Jangan anda sesali, karena itu berpotensi merontokkan pahala kebaikan yang telah Allah tuliskan.
Anda boleh memberikan masukan dan kritik, tentu saja, dalam rangka tausiyah dan menguatkan organisasi saat ini. Namun tidak dengan kebencian, tidak dengan dendam, tidak dengan kemarahan, tidak dengan kedengkian. Apalagi hanya terpicu oleh perbedaan materi, ada sebagian generasi perintis organisasi yang berada dalam kondisi kemapanan, dan sementara anda termasuk yang  masih sangat jauh dari kesejahteraan. Jadi sebenarnya kemarahan anda karena apa ?
Semua langkah kebaikan, semua tetes keringat, semua air mata, semua titik darah yang pernah keluar dari diri anda, telah menjadi amal kebaikan yang berlipat pahalanya. Telah membuahkan  berkah bagi diri, keluarga dan organisasi anda. Tidak ada kebaikan yang sia-sia, semua pasti ada hasilnya. Tidak mesti hasil itu berupa balasan langsung di dunia, namun bisa kita nikmati nanti di surga. Tidak mesti balasan kebaikan itu datang dari organisasi yang kita tumbuhkan, namun bisa jadi dari arah lain yang tidak pernah kita sangka sebelumnya. Allah Maha Adil dan Bijaksana.
Berharaplah kepada Allah saja, sebab Dia yang Maha Kaya. Berharaplah kepada Allah, sebab Dia Yang Maha memberi balasan. Pasti anda tidak akan kecewa. Allah tidak akan menyia-nyiakan semua jerih payah anda. Allah tidak akan melupakan semua usaha dan perjuangan anda. Allah tidak akan melalaikan balasan bagi setiap titik kebaikan, walau sebesar dzarrah. Tidak ada manusia yang bisa melakukan itu semua dengan sempurna, karena manusia sangat banyak kelemahan dan keterbatasannya.
Menyakitkan rasanya ? Dakwah ternyata melelahkan, dakwah ternyata menyakitkan, benarkah ? Coba kita simak kembali tausiyah ustadz Rahmat Abdullah, Allah yarham.
“Memang seperti itulah dakwah. Dakwah adalah cinta. Dan cinta akan meminta semuanya dari dirimu. Sampai pikiranmu. Sampai perhatianmu. Berjalan, duduk, dan tidurmu.. Bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang dakwah. Tentang umat yang kau cintai..
Lagi-lagi memang seperti itu. Dakwah. Menyedot saripati energimu. Sampai tulang belulangmu. Sampai daging terakhir yang menempel di tubuh rentamu. Tubuh yang luluh lantak diseret-seret.. Tubuh yang hancur lebur dipaksa berlari.. Seperti itu pula kejadiannya pada rambut Rasulullah. Beliau memang akan tua juga. Tapi kepalanya beruban karena beban berat dari ayat yang diturunkan Allah….
Dakwah bukannya tidak melelahkan. Bukannya tidak membosankan. Dakwah bukannya tidak menyakitkan. Bahkan juga para pejuang risalah bukannya sepi dari godaan kefuturan. Tidak… Justru kelelahan. Justru rasa sakit itu selalu bersama mereka sepanjang hidupnya. Setiap hari. Satu kisah heroik, akan segera mereka sambung lagi dengan amalan yang jauh lebih “tragis”. Justru karena rasa sakit itu selalu mereka rasakan, selalu menemani… Justru karena rasa sakit itu selalu mengintai ke mana pun mereka pergi… akhirnya menjadi adaptasi. Kalau iman dan godaan rasa lelah selalu bertempur, pada akhirnya salah satunya harus mengalah. Dan rasa lelah itu sendiri yang akhirnya lelah untuk mencekik iman. Lalu terus berkobar dalam dada. Begitu pula rasa sakit. Hingga luka tak kau rasa lagi sebagai luka. Hingga “hasrat untuk mengeluh” tidak lagi terlalu menggoda dibandingkan jihad yang begitu cantik.
Begitupun Umar. Saat Rasulullah wafat, ia histeris. Saat Abu Bakar wafat, ia tidak lagi mengamuk. Bukannya tidak cinta pada Abu Bakar. Tapi saking seringnya “ditinggalkan” , hal itu sudah menjadi kewajaran. Dan menjadi semacam tonik bagi iman..”
Demikian untaian mutiara yang sangat dalam dari Allah Yarham, ustadz Rahmat Abdullah. Sekarang saatnya introspeksi, masuk ke dalam relung jiwa kita sendiri. Menata, mengaca, mengoreksi hati. Menjawab dengan jujur, sebenarnya kita bekerja untuk siapa ? Jika untuk manusia, bersiaplah untuk merana. Jika untuk Allah semata, bersiaplah mendapatkan kebaikan berlipat dariNya. Di dunia, atau nanti di surgaNya.

Mitos Kartini dan Rekayasa Sejarah Atas Peran Islam

Oleh: Dr. Adian Husaini
Ada yang menarik pada Jurnal Islamia (INSISTS-Republika) edisi 9 April 2009
lalu. Dari empat halaman jurnal berbentuk koran yang membahas tema utama
tentang Kesetaraan Gender, ada tulisan sejarawan Persis Tiar Anwar Bahtiar
tentang Kartini. Judulnya: “*Mengapa Harus Kartini?*”

Sejarawan yang menamatkan magister bidang sejarah di Universitas Indonesia
ini mempertanyakan: Mengapa Harus Kartini? Mengapa setiap *21 April* bangsa
Indonesia memperingati *Hari Kartini*? Apakah tidak ada wanita Indonesia
lain yang lebih layak ditokohkan dan diteladani dibandingkan Kartini?

Menyongsong tanggal 21 April 2009 kali ini, sangatlah relevan untuk membaca
dan merenungkan artikel yang ditulis oleh Tiar Anwar Bahtiar tersebut. Tentu
saja, pertanyaan bernada gugatan seperti itu bukan pertama kali dilontarkan
sejarawan. Pada tahun 1970-an, di saat kuat-kuatnya pemerintahan Orde Baru,
guru besar Universitas Indonesia, Prof. Dr. *Harsja W. Bachtiar* pernah
menggugat masalah ini. Ia mengkritik ‘*pengkultusan*‘ R.A. Kartini sebagai
pahlawan nasional Indonesia.

Dalam buku *Satu Abad Kartini* (1879-1979), (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan,
1990, cetakan ke-4), Harsja W. Bahtiar menulis sebuah artikel berjudul
“*Kartini
dan Peranan Wanita dalam Masyarakat Kita*“. Tulisan ini bernada gugatan
terhadap penokohan Kartini. “*Kita mengambil alih Kartini sebagai lambang
emansipasi wanita di Indonesia dari orang-orang Belanda. Kita tidak mencipta
sendiri lambang budaya ini, meskipun kemudian kitalah yang mengembangkannya
lebih lanjut,*” tulis Harsja W. Bachtiar, yang menamatkan doktor
sosiologinya di Harvard University.

Harsja juga menggugat dengan halus, mengapa harus Kartini yang dijadikan
sebagai simbol kemajuan wanita Indonesia. Ia menunjuk dua sosok wanita yang
hebat dalam sejarah Indonesia. Pertama, Sultanah Seri Ratu Tajul Alam
*Safiatuddin
Johan* Berdaulat dari Aceh dan kedua, *Siti Aisyah We Tenriolle* dari
Sulawesi Selatan. Anehnya, tulis Harsja, dua wanita itu tidak masuk dalam
buku *Sejarah Setengah Abad Pergerakan Wanita Indonesia* (Jakarta: Balai
Pustaka, 1978), terbitan resmi Kongres Wanita Indonesia (Kowani). Tentu saja
Kartini masuk dalam buku tersebut.

Padahal, papar Harsja, kehebatan dua wanita itu sangat luar biasa. *Sultanah
Safiatudin *dikenal sebagai sosok yang sangat pintar dan aktif mengembangkan
ilmu pengatetahuan. Selain bahasa Aceh dan Melayu, dia menguasai bahasa
Arab
, Persia, Spanyol dan Urdu. Di masa pemerintahannya, ilmu dan
kesusastraan berkembang pesat. Ketika itulah lahir karya-karya besar dari
Nuruddin ar-Raniry, Hamzah Fansuri, dan Abdur Rauf. Ia juga berhasil
menampik usaha-usaha Belanda untuk menempatkan diri di daerah Aceh. VOC pun
tidak berhasil memperoleh monopoli atas perdagangan timah dan komoditi
lainnya. Sultanah memerintah Aceh cukup lama, yaitu 1644-1675. Ia dikenal
sangat memajukan pendidikan, baik untuk pria maupun untuk wanita.

Tokoh wanita kedua yang disebut Harsja Bachriar adalah *Siti Aisyah We
Tenriolle*. Wanita ini bukan hanya dikenal ahli dalam pemerintahan, tetapi
juga mahir dalam kesusastraan. B.F. Matthes, orang Belanda yang ahli sejarah
Sulawesi Selatan, mengaku mendapat manfaat besar dari sebuah epos La-Galigo,
yang mencakup lebih dari 7.000 halaman folio. Ikhtisar epos besar itu dibuat
sendiri oleh We Tenriolle. Pada tahun 1908, wanita ini mendirikan sekolah
pertama di Tanette, tempat pendidikan modern pertama yang dibuka baik untuk
anak-anak pria maupun untuk wanita.

Penelusuran Prof. Harsja W. Bachtiar terhadap penokohan Kartini akhirnya
menemukan kenyataan, bahwa Kartini memang *dipilih *oleh orang Belanda untuk
*ditampilkan *ke depan sebagai *pendekar kemajuan wanita pribumi* di
Indonesia. Mula-mula Kartini bergaul dengan Asisten-Residen Ovink suami
istri. Adalah *Cristiaan Snouck Hurgronje*, penasehat pemerintah Hindia
Belanda, yang mendorong J.H. Abendanon, Direktur Departemen Pendidikan,
Agama dan Kerajinan, agar memberikan perhatian pada Kartini tiga bersaudara.

Harsja menulis tentang kisah ini: “*Abendanon mengunjungi mereka dan
kemudian menjadi semacam sponsor bagi Kartini. Kartini berkenalan dengan
Hilda de Booy-Boissevain, istri ajudan Gubernur Jendral, pada suatu resepsi
di Istana Bogor, suatu pertemuan yang sangat mengesankan kedua belah pihak.*


Ringkasnya, Kartini kemudian berkenalan dengan *Estella Zeehandelaar*,
seorang wanita aktivis gerakan Sociaal Democratische Arbeiderspartij (SDAP).
Wanita Belanda ini kemudian mengenalkan Kartini pada berbagai ide modern,
terutama mengenai *perjuangan wanita *dan *sosialisme*. Tokoh sosialisme
H.H. van Kol dan penganjur “Haluan Etika” *C.Th. van Deventer* adalah
orang-orang yang menampilkan Kartini sebagai pendekar wanita Indonesia.

Lebih dari enam tahun setelah Kartini wafat pada umur 25 tahun, pada tahun
1911, Abendanon *menerbitkan *kumpulan surat-surat Kartini dengan judul *Door
Duisternis tot Lich*. Kemudian terbit juga edisi bahasa Inggrisnya dengan
judul *Letters of a Javaness Princess*. Beberapa tahun kemudian, terbit
terjemahan dalam bahasa Indonesia dengan judul *Habis Gelap Terbitlah Terang
*: Boeah Pikiran (1922).

Dua tahun setelah penerbitan buku Kartini, Hilda de Booy-Boissevain
mengadakan prakarsa *pengumpulan dana *yang memungkinkan pembiayaan sejumlah
sekolah di Jawa Tengah. Tanggal 27 Juni 1913, didirikan *Komite Kartini
Fonds*, yang diketuai C.Th. van Deventer. Usaha pengumpulan dana ini lebih *
memperkenalkan* nama Kartini, serta ide-idenya pada orang-orang di Belanda.
Harsja Bachtriar kemudian mencatat: “*Orang-orang Indonesia di luar
lingkungan terbatas Kartini sendiri, dalam masa kehidupan Kartini hampir tidak
mengenal Kartini dan mungkin tidak akan mengenal Kartini bilamana
orang-orang Belanda ini tidak menampilkan Kartini ke depan dalam
tulisan-tulisan, percakapan-percakapan maupun tindakan-tindakan mereka.*”

Karena itulah, simpul guru besar UI tersebut, “*Kita mengambil alih Kartini
sebagai lambang emansipasi wanita di Indonesia dari orang-orang Belanda.
Kita tidak mencipta sendiri lambang budaya ini, meskipun kemudian kitalah
yang mengembangkannya lebih lanjut.*”

Harsja mengimbau agar informasi tentang wanita-wanita Indonesia yang
hebat-hebat dibuka seluas-luasnya, sehingga menjadi pengetahuan suri
tauladan banyak orang. Ia secara halus berusaha meruntuhkan mitos Kartini: “
*Dan, bilamana ternyata bahwa dalam berbagai hal wanita-wanita ini lebih
mulia, lebih berjasa daripada R.A. Kartini, kita harus berbangga bahwa
wanita-wanita kita lebih hebat daripada dikira sebelumnya, tanpa
memperkecilpenghargaan kita pada RA Kartini.
*”

Dalam artikelnya di Jurnal Islamia (INSISTS-Republika, 9/4/2009), Tiar Anwar
Bahtiar juga menyebut sejumlah sosok wanita yang sangat layak dimunculkan,
seperti *Dewi Sartika *di Bandung dan *Rohana Kudus *di Padang (kemudian
pindah ke Medan). Dua wanita ini pikiran-pikirannya memang tidak sengaja
dipublikasikan. Tapi yang mereka lakukan *lebih* dari yang dilakukan
Kartini. Berikut ini paparan tentang dua sosok wanita itu, sebagaimana
dikutip dari artikel Tiar Bahtiar.

*Dewi Sartika* (1884-1947) bukan hanya berwacana tentang pendidikan kaum
wanita. Ia bahkan berhasil mendirikan sekolah yang belakangan dinamakan *Sakola
Kautamaan Istri *(1910) yang berdiri di berbagai tempat di Bandung dan luar
Bandung. *Rohana Kudus* (1884-1972) melakukan hal yang sama di kampung
halamannya. Selain mendirikan *Sekolah Kerajinan Amal Setia *(1911) dan *Rohana
School *(1916), Rohana Kudus bahkan menjadi jurnalis sejak di Koto Gadang
sampai saat ia mengungsi ke Medan. Ia tercatat sebagai *jurnalis wanita
pertama *di negeri ini.

Kalau Kartini hanya menyampaikan ide-idenya dalam surat, mereka sudah lebih
jauh melangkah: *mewujudkan ide-ide* dalam *tindakan nyata*. Jika Kartini
dikenalkan oleh Abendanon yang berinisiatif menerbitkan surat-suratnya,
Rohana menyebarkan idenya secara langsung melalui koran-koran yang ia
terbitkan sendiri sejak dari Sunting Melayu (Koto Gadang, 1912), Wanita
Bergerak (Padang), Radio (padang), hingga Cahaya Sumatera (Medan).

Bahkan kalau melirik kisah-kisah Cut Nyak Dien, Tengku Fakinah, Cut Mutia,
Pecut Baren, Pocut Meurah Intan, dan Cutpo Fatimah dari Aceh,
klaim-klaim *keterbelakangan
*kaum wanita di negeri pada masa Kartini hidup ini *harus *segera *
digugurkan*. Mereka adalah wanita-wanita hebat yang turut berjuang
mempertahankan kemerdekaan Aceh dari serangan Belanda. Tengku Fakinah,
selain ikut berperang juga adalah seorang ulama-wanita. Di Aceh, kisah
wanita ikut berperang atau menjadi pemimpin pasukan perang bukan sesuatu
yang aneh. Bahkan jauh-jauh hari sebelum era Cut Nyak Dien dan sebelum
Belanda datang ke Indonesia, Kerajaan Aceh sudah memiliki *Panglima Angkatan
Laut wanita *pertama, yakni Malahayati.

Jadi, ada baiknya bangsa Indonesia bisa berpikir lebih jernih: Mengapa
Kartini? Mengapa bukan Rohana Kudus? Mengapa bukan Cut Nyak Dien? Mengapa
Abendanon *memilih *Kartini? Dan mengapa kemudian bangsa Indonesia juga
mengikuti kebijakan itu? Cut Nyak Dien tidak pernah mau tunduk kepada
Belanda. Ia tidak pernah menyerah dan berhenti menentang penjajahan Belanda
atas negeri ini.

Meskipun aktif berkiprah di tengah masyarakat, Rohana Kudus juga memiliki *visi
keislaman *yang tegas. “*Perputaran zaman tidak akan pernah membuat wanita
menyamai laki-laki. Wanita tetaplah wanita dengan segala kemampuan dan
kewajibannya. Yang harus berubah adalah wanita harus mendapat pendidikan dan
perlakukan yang lebih baik. Wanita harus sehat jasmani dan rohani, berakhlak
dan berbudi pekerti luhur, taat beribadah yang kesemuanya hanya akan
terpenuhi dengan mempunyai ilmu pengetahuan,*” begitu kata Rohana Kudus.

Seperti diungkapkan oleh Prof. Harsja W. Bachtiar dan Tiar Anwar Bahtiar,
penokohan Kartini *tidak terlepas *dari *peran *Belanda. Harsja W. Bachtiar
bahkan menyinggung nama *Snouck Hurgronje *dalam rangkaian penokohan Kartini
oleh Abendanon. Padahal, Snouck adalah seorang *orientalis *Belanda yang
memiliki kebijakan sistematis untuk *meminggirkan Islam *dari bumi
Nusantara. Pakar sejarah Melayu, Prof. Naquib al-Attas sudah lama
mengingatkan adanya upaya yang sistematis dari orientalis Belanda
untuk *memperkecil
*peran *Islam *dalam sejarah Kepulauan Nusantara.

Dalam bukunya, *Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu *((Bandung: Mizan,
1990, cet. Ke-4), Prof. Naquib al-Attas menulis tentang masalah ini:

*“Kecenderungan ke arah memperkecil peranan Islam dalam sejarah Kepulauan
ini, sudah nyata pula, misalnya dalam tulisan-tulisan Snouck Hurgronje pada
akhir abad yang lalu. Kemudian hampir semua sarjana-sarjana yang menulis
selepas Hurgronje telah terpengaruh kesan pemikirannya yang meluas dan
mendalam di kalangan mereka, sehingga tidak mengherankan sekiranya pengaruh
itu masih berlaku sampai dewasa ini.”*

Apa hubungan Kartini dengan Snouck Hurgronje? Dalam sejumlah suratnya kepada
Ny. Abendanon, Kartini memang beberapa kali *menyebut *nama Snouck.
Tampaknya, Kartini memandang orientalis-kolonialis Balanda itu sebagai *orang
hebat *yang sangat *pakar *dalam soal Islam. Dalam suratnya kepada Ny.
Abendanon tertanggal 18 Februari 1902, Kartini menulis:

“*Salam, Bidadariku yang manis dan baik!… Masih ada lagi suatu permintaan
penting yang hendak saya ajukan kepada Nyonya. Apabila Nyonya bertemu dengan
teman Nyonya Dr. Snouck Hurgronje, sudikah Nyonya bertanya kepada beliau
tentang hal berikut: ‘Apakah dalam agama Islam juga ada hukum akil balig
seperti yang terdapat dalam undang-undang bangsa Barat?‘ Ataukah sebaiknya
saya memberanikan diri langsung bertanya kepada beliau? Saya ingin sekali
mengetahui sesuatu tentang hak dan kewajiban perempuan Islam serta anak
perempuannya.*” (Lihat, buku Kartini: *Surat-surat kepada Ny. R.M.
Abendanon-Mandri dan Suaminya*, (penerjemah: Sulastin Sutrisno), (Jakarta:
Penerbit Djambatan, 2000), hal. 234-235).

Melalui bukunya, *Snouck Hurgronje en Islam *(Diindonesiakan oleh Girimukti
Pusaka, dengan judul *Snouck Hurgronje dan Islam*, tahun 1989), P.SJ. Van
Koningsveld memaparkan sosok dan kiprah Snouck Hurgronje dalam upaya
membantu penjajah Belanda untuk ‘*menaklukkan Islam*‘. Mengikuti jejak
orientalis Yahudi, Ignaz Goldziher, yang menjadi murid para Syaikh al-Azhar
Kairo, Snouck sampai merasa perlu untuk *menyatakan diri* sebagai
seorang *muslim
*(1885) dan *mengganti nama *menjadi *Abdul Ghaffar*. Dengan itu dia bisa
diterima menjadi murid para ulama Mekkah. Posisi dan pengalaman ini nantinya
memudahkan langkah Snouck dalam menembus daerah-daerah Muslim di berbagai
wilayah di Indonesia.

Menurut Van Koningsveld, pemerintah kolonial mengerti benar sepak terjang
Snouck dalam ‘penyamarannya’ sebagai Muslim. Snouck *dianggap* oleh banyak
kaum Muslim di Nusantara ini sebagai ‘*ulama*‘. Bahkan ada yang menyebutnya
sebagai “*Mufti Hindia Belanda*“. Juga ada yang memanggilnya “Syaikhul Islam
Jawa”. Padahal, Snouck sendiri menulis tentang Islam: “*Sesungguhnya agama
ini meskipun cocok untuk membiasakan ketertiban kepada orang-orang biadab,
tetapi tidak dapat berdamai dengan peradaban modern, kecuali dengan suatu
perubahan radikal, namun tidak sesuatu pun memberi kita hak untuk
mengharapkannya.*” (hal. 116).

*Snouck Hurgronje* (lahir: 1857) adalah *adviseur *pada Kantoor voor
Inlandsche zaken pada periode 1899-1906. Kantor inilah yang bertugas
memberikan nasehat kepada pemerintah kolonial dalam masalah pribumi. Dalam
bukunya, *Politik Islam Hindia Belanda*, (Jakarta: LP3ES, 1985), Dr. Aqib
Suminto mengupas panjang lebar pemikiran dan nasehat-nasehat Snouck
Hurgronje kepada pemerintah kolonial Belanda. Salah satu strateginya, adalah
melakukan *pembaratan *kaum elite pribumi melalui *dunia pendidikan*,
sehingga mereka jauh dari Islam. Menurut Snouck, lapisan pribumi yang
berkebudayaan lebih tinggi relatif jauh dari pengaruh Islam. Sedangkan
pengaruh Barat yang mereka miliki akan mempermudah mempertemukannya dengan
pemerintahan Eropa. Snouck optimis, rakyat banyak akan mengikuti jejak
pemimpin tradisional mereka. Menurutnya, *Islam Indonesia *akan
mengalami *kekalahan
akhir *melalui *asosiasi *pemeluk agama ini ke dalam *kebudayaan *Belanda.
Dalam perlombaan bersaing melawan Islam bisa dipastikan bahwa *asosiasi
kebudayaan *yang ditopang oleh *pendidikan Barat *akan keluar sebagai *
pemenangnya*. Apalagi, jika didukung oleh *kristenisasi *dan *pemanfaatan
adat*. (hal. 43).

Aqib Suminto mengupas beberapa strategi Snouck Hurgronje dalam menaklukkan
Islam di Indonesia: “*Terhadap daerah yang Islamnya kuat semacam Aceh
misalnya, Snouck Hurgronje tidak merestui dilancarkan kristenisasi. Untuk
menghadapi Islam ia cenderung memilih jalan halus, yaitu dengan
menyalurkan semangat
mereka kearah yang menjauhi agamanya (Islam) melalui asosiasi kebudayaan.*”
(hal. 24).

Itulah *strategi *dan *taktik *penjajah untuk menaklukkan Islam. Kita
melihat, strategi dan taktik itu pula yang sekarang masih banyak digunakan
untuk ‘menaklukkan’ Islam. Bahkan, jika kita cermati, strategi itu kini
semakin canggih dilakukan. *Kader-kader *Snouck dari kalangan ‘pribumi
Muslim’ sudah berjubel. Biasanya, berawal dari perasaan ‘minder’ sebagai
Muslim dan *silau *dengan *peradaban Barat*, banyak ‘anak didik Snouck’ –
langsung atau pun tidak – yang sibuk *menyeret Islam *ke bawah *orbit
*peradaban
Barat. Tentu, sangat ironis, jika ada yang tidak sadar, bahwa yang mereka
lakukan adalah *merusak *Islam, dan pada saat yang sama tetap merasa telah
berbuat kebaikan.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates