Sabtu, 16 April 2011

WAQFAH RUHANIYAH ADALAH SEBUAH OASE


          Perjalanan dakwah yang panjang, berat, mendaki dan berliku terkadang membuat kita seolah kehabisan nafas, merasa begitu lelah dan dahaga. Bahkan tak jarang hati kita serasa tercabik-cabik. Niat baik kita sering disalah-artikan. Keinginan kita untuk senantiasa berada di jalurNya yang benar justru mendapat tentangan yang luar biasa. Bicara salah..., tak bicarapun salah..., tetap saja digunjingkan. Hanya untaian kalimahNya yang suci yang dapat menenangkan hati:Wa laa tahinuu wa la tahzanuu wa antumul a’launa in kuntum mu’miniin, janganlah kamu lemah dan janganlah kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi derajatnya jika kamu orang-orang yang beriman (Qs. Ali Imran: 139). Atau di surat Al Maidah ayat 54, “ Walaa yakhoofuuna lau mata laaim”, dan tidak takut celaan orang yang suka mencela.
          Cobaan hidup yang berat yang mendera wanita mulia Maryam ibunda Isa pernah sampai membuatnya berujar: “Lau kaana mittu qabla hadza”, seandainya saja aku telah wafat sebelum peristiwa ini. Demikian pula ummul mu’minin Aisyah ra juga sempat mengucapkan kalimat yang sama ketika ujian berat menghadangnya.  Namun Subhanallah, keimanan mereka yang mendalam ditambah pertolongan Allah membuat mereka tetap tegar dan survive.
          Namun memang sebagai manusia biasa yang lemah sebelum kita kehabisan nafas dan mati kehausan atau sebelum langkah kita menjadi tersaruk-saruk, kita harus melakukan waqfah ruhaniyah. Kita perlu jeda ruhiyah. Berhenti sejenak di terminal atau perhentian ruhiyah.  Kita membutuhkan oase tuk melepas penat dan dahaga sejenak untuk kemudian dapat melangkah lagi dengan langkah yang lebih tegap dan pasti serta tak lagi gontai.
          Sahabat Nabi Muhammad SAW, Muadz bin Jabal ra termasuk sahabat yang paling giat mengingatkan sahabat dan mengajak mereka untuk melakukan perhentian ruhiyah dan perenungan keimanan. Ia terkenal dengan ajakannya: “Ijlis bina’ nu’minuu sa’atan”, duduklah bersama kami (tuk melakukan perenungan), berimanlah sejenak”. Waqfah ruhaniyah ini dapat dilakukan dengan melalui liqa’at-liqa’at. Sayangnya majlis-majlis kita terlalu banyak diisi dengan bahasa lisan dan bukannya bahasa hati. Padahal yang dibutuhkan adalah perenungan hati. Kadang lisan kita terlalu lancar berbicara dan tak memberi kesempatan pada hati kita tuk bicara.
          Tatkala kita sedang dzikir ma’tsurat, atau tilawah qur’an pada hakikatnya kita sedang melakukan waqfah ruhaniyah. Karena pada saat berdzikir dan tilawah kita hanya mengizinkan lisan kita tuk mengeluarkan tasbih, tahmid, tahlil dan takbir serta kalamullah saja. Tak ada kesempatan untuk membicarakan hal-hal yang tidak berfaedah atau yang bukan urusan kita: “Alladziina hum ‘anil laghwi mu’ridhuun”, ciri orang beriman ialah mereka yang menjauhkan diri dari perkataan dan perbuatan yang sia-sia (Qs. 23: 3). Atau hadits nabi SAW: “Min husni islamil mar’i tarku ma laa ya’nihi”, di antara kesempurnaan keislaman seseorang adalah bila ia meninggalkan apa-apa yang tidak berguna bagi dirinya. Begitu pula ketika kita sedang shaum kita begitu menjaga lisan kita dan tubuh kita terlalu lemas untuk melakukan atau berbicara yang tidak-tidak.
            Bila ada rizki dan kesempatan kita bisa mendatangi oase yang luar biasa secara jama’iyan dengan saudara-saudara kita dari seluruh penjuru dunia. Ibadah umrah atau haji memberi kesempatan pada kita untuk mereguk oase itu bersama-sama. Oase yang paling orisinal, jernih dan menyejukkan. Oase yang akan membasuh luka-luka di hati kita dan mempersegar keimanan kita
          Di saat gerakan dakwah kita mencanangkan aneka waqfah tarbawiyah termasuk waqfah ruhaniyah, Allah yang Maha Pemurah dan Penyayang memberangkatkan saya untuk melakukan waqfah ruhaniyah di tanahNya yang suci, tuk mereguk oaseNya. Dan Subhanallah bi’ah shalihah yang kita dapatkan membuat kita tak akan memperdulikan keterbatasan-keterbatan fisik kita. Kita melupakan betis kita yang menjadi kaku seperti kayu atau mata kita yang menuntut tidur. Ada seorang ibu dari daerah  Najran yang bahkan sudah menyewa penginapan selama tiga bulan mulai dari Rajab, Sya’ban hingga Ramadhan agar senantiasa berada di dekat Masjidil Haram.
          Dari bayi merah yang didukung melakukan thawaf bersama sang ayah atau anak lelaki kecil berumur 2 tahun yang sudah mengenakan pakaian ihram, gadis-gadis belia yang cantik jelita hingga nenek-nenek perkasa di usia 85 tahun yang tetap fit melakukan thawaf di siang bolong, kesemuanya menunjukkan kesungguh-sungguhannya tuk mereguk oase itu.
          Semua enggan beranjak jauh dari baitullah Ka’bah yang begitu mulia, agung dan berwibawa. Saya bersimpuh di depan Ka’bah seraya berucap: “ Ya Allah dosaku begitu banyak dan amalku begitu sedikit , masih banyak orang yang jauh lebih baik amalnya dan lebih sedikit dosanya dariku, namun kau menghadirkan aku di rumahMu ini”.  Sementara menunggu waktu shalat hampir tak ada yang mengobrol apalagi menggosip, semua memegang tasbih dan membaca Qur’an, bahkan juga pemuda-pemuda gagah yang trendi.
          Muka-muka penuh tangis merapat ke multazam dan menggapaikan tangan bergelantungan mencoba meraih pintu Ka’bah. Semua menangis memohon ampunanNya. Diri ini serasa kerdil di hadapanNya.
          Tak sekedar itu mereka juga shaum di tengah terik suhu 50 derajat celcius dan saling membagi kurma ruthob tuk berbuka ditambah air zam-zam dingin yang menyejukkan.
          Berada di dekat oase itu memberikan pula inspirasi bagi saya untuk kembali tegar sebagaimana wanita-wanita mulia yang namanya pasti disebutkan dalam mata rantai menapak tilasi jejak langkah perjuangan nabiyullah Ibrahim As dan Rasulullah Muhammmad SAW. Siti Hajar yang tetap optimis dalam pencariannya yang penuh ketidak pastian antara bukit Shafa dan Marwa dalam kesendiriannya di tanah hijaz yang gersang. Begitu pula Siti Khadijah ra yang wafat seusai pemboikotan yang sangat berat.      Sumayyah, sang syahidah pertama. Asma binti Abu Bakar sang dzaati nithoqooin (pemilik 2 ikat pinggang) yang berperan dalam peristiwa hijrah Nabi. Dan Nusaibah binti Ka’ab yang mengucap janji setia dalam Bai’ah Aqabah 2 dan melindungi Rasulullah di perang Uhud.
          Ternyata mereguk air di oase bukan sekedar untuk menyejukkan hati belaka lalu terlena, melainkan tuk kembali tegar dan berjuang setegar pahlawan-pahlawan wanita tersebut, insya Allah.
sumber: sitaresmi's blog

Indonesia dan Kita (10)

Posted by pak cah on April 15, 2011

Kadang masyarakat memerlukan paksaan untuk bisa menjadi baik. Masyarakat yang tertib, teratur, rapi dan jujur, tidak mesti terbentuk karena kesadaran yang tumbuh dari relung hati nurani. Bisa pula tercipta karena adanya seperangkat sistem yang memaksa mereka untuk menjadi “baik” dalam ukuran tertentu, sesuai standar sistem tersebut. Di antara perangkat yang bisa memaksa ini adalah keterpaduan data, kelengkapan sarana dan prasarana, kecanggihan teknologi, dan adanya aturan serta hukum yang ditegakkan dengan tegas.
Contoh yang paling mudah adalah tertib lalu lintas di berbagai negara maju. Selama saya di Amerika dan Kanada, banyak rekan-rekan warga Indonesia yang bercerita tentang “surat cinta” kepolisian yang dikirim ke alamat rumah mereka. Jika seseorang melakukan pelanggaran lalu lintas, misalnya mengendarai mobil melampaui kecepatan maksimal yang diperbolehkan, atau melanggar trafick light, maka radar dan kamera merekam pelanggaran tersebut. Sepekan setelah kejadian pelanggaran, akan datang surat “tilang” dari kepolisian disertai foto kejadian pelanggaran yang dimaksud.
Beberapa rekan menceritakan pelanggaran lalu lintas yang dilakukan di sebuah trafick light. Saat melintas di trafick light, ternyata lampu sudah berwarna merah. Dalam hitungan detik, kamera yang dipasang di tepi jalan langsung memotret kejadian tersebut secara otomatis. Sepekan kemudian datanglah surat kepolisian ke alamat rumah, disertai foto pelanggaran tersebut. Satu foto plat nomer mobil, satu foto posisi mobil terhadap lampu lalu lintas, dan satu lagi foto posisi mobil dari belakang.
Surat tersebut memberi informasi pelanggaran yang dilakukan, sekaligus besaran denda yang harus mereka bayarkan. Dilengkapi pula dengan keterangan yang diperlukan tentang cara pembayaran dan cara komplain apabila merasa keberatan atas “tuduhan” pelanggaran tersebut. Pertanyaannya adalah, bagaimana cara “menangkap” pelaku pelanggaran lalu lintas, dan bagaimana cara memperkarakan mereka ? Bagaimana kepolisian mengetahui alamat si pelaku pelanggaran sehingga bisa menyampaikan surat ke alamat yang tepat ? Bagaimana memotret kejadian pelanggaran ?
Pertama kali yang kita lihat adalah adanya keterpaduan data setiap warga negara. Satu data yang mereka miliki telah memberikan semua informasi tentang dirinya. Misalnya nomer mobil, itu sudah cukup memberikan data tentang si pemilik mobil: dimana rumahnya, apa asuransi yang digunakan, bagaimana dan berapa ia membayarkan pajak, apa catatan kriminalnya, dan lain sebagainya. Maka nomer mobil menjadi sangat vital keberadaannya, karena sudah memberikan semua data dan informasi tentang pribadi pemilik  mobil. Bisa saja mobil itu dipinjam orang saat terjadinya pelanggaran, namun tetap saja yang terkena delik pelanggaran adalah orang yang memiliki mobil tersebut.
Di negeri kita tercinta Indonesia, plat mobil tidak bisa memberikan informasi yang memadai. Karena mobil diperjualbelikan bisa dalam hitungan hari, dan pergantian kepemilikan mobil tidak selalu diikuti dengan pergantian data dalam surat resmi atau BPKB mobil tersebut. Jika kita melihat sebuah mobil super mewah melintas di Jakarta, belum tentu pemilik mobil sesuai dengan data yang tertera dalam BPKB-nya. Karena bisa jadi pemilik sekarang membeli dari tangan kelima sejak mobil itu pertama kali dibeli. Pemiliknya sudah berganti lima kali, namun data dalam BPKB tetap tertera orang pertama. Apalagi jika kita melihat mobil super tua yang melintas di trans Sumatera, mungkin kepemilikannya sudah berganti hingga limapuluh kali.
Problem besar tanah air kita diantaranya adalah soal keterpaduan data. Mengurus lebih dari duaratus juta penduduk memang tidaklah mudah. Masing-masing instansi memiliki dan mencari data sendiri-sendiri. Data si Paijo di Puskesmas kampungnya, tidak berhubungan dengan data di kantor pajak dan kantor kepolisian. Puskesmas punya data sendiri, Rumah Sakit punya data sendiri, kantor polisi punya data sendiri, kantor pajak punya data sendiri, kantor PMI punya data sendiri, kantor telkom punya data sendiri dan lain sebagainya.
Itulah sebabnya, jalan raya kita setiap hari digali oleh pihak yang berbeda-beda. Hari ini digali untuk saluran telepon umum, kemudian ditutup lagi. Sebulan kemudian digali untuk pembuatan selokan dan resapan air, kemudian ditutup lagi. Sebulan kemudian digali untuk saluran TV kabel, kemudian ditutup lagi. Sebulan kemudian digali untuk jaringan listrik, kemudian ditutup lagi. Dan begitu seterusnya. Kita bekerja sendiri-sendiri, karena memiliki data dan program sendiri-sendiri.
Di Amerika, berbagai ruas jalan telah dilengkapi dengan kamera atau alat pantau radar untuk mendeteksi kondisi lalu lintas. Begitu terjadi pelanggaran terhadap batas kecepatan maksimal, akan tertangkap oleh radar yang segera membuat laporan tentang pelanggaran tersebut. Di berbagai trafick light dilengkapi dengan sejumlah kamera yang langsung bekerja apabila ada kendaraan yang melakukan pelanggaran.  Kamera tersebut serentak memotret mobil dari berbagai arah dan sisi, sehingga pihak kepolisian bisa mengolah foto hasil jepretan kamera otomatis untuk menjadi delik pelanggaran. Radar dan kamera ini membuat tidak ada negosiasi dengan pelaku pelanggaran.
Di negara kita tercinta Indonesia, belum cukup terdukung dengan teknologi radar dan kamera untuk menjadi polisi jalan raya. Bahkan seandainya di berbagai trafick light dipasangi kamera, masih dikhawatirkan justru menjadi titik kejahatan baru, dimana kamera tersebut hilang karena dicuri. Rel kereta api saja bisa hilang karena dicuri orang. Sekrup atau mur dan baut yang berada di rel kereta api juga bisa hilang, karena diambil untuk dijual kiloan di tempat penjualan besi tua. Apalagi kamera yang harganya jelas lebih mahal. Mungkin usianya di jalan raya hanya beberapa hari saja.
Infrastruktur berupa jalan raya yang bagus juga sangat menunjang kelancaran lalu lintas. Jika jumlah jalan tidak bertambah di Indonesia, sementara jumlah motor dan mobil setiap hari terus bertambah, maka pada titik tertentu bisa dibayangkan kondisi jalan kita tidak akan mampu menampung kendaraan bermotor. Lihatlah betapa setiap hari kita menyaksikan ribuan motor terjual di Indonesia, yang siap memadati jalan raya. Mobil juga terus bertambah jumlahnya, sementara jalan tidak bertambah ruas maupun lebarnya. Tidak ada penambahan ruas jalan baru, dan sangat jarang ada penambahan lebar jalan.
Transportasi umum kita juga belum menjadi alternatif yang digemari masyarakat. Di berbagai negara maju, ada bus, trem dan kereta api di atas permukaan tanah, ada monorel yang dibuatkan jalur di bagian atas, ada pula kereta api subway yang berada di bawah tanah. Di beberapa wilayah, masih ditambah dengan transportasi sungai yang juga menjadi alternatif warga. Semua alat transportasi tersebut kondisinya bagus dan relatif tepat waktu. Jika kita naik Shinkanzen dari Tokyo hingga Fukuoka, kita tidak akan takut tersesat atau salah turun di stasiun yang berbeda, karena Shinkanzen selalu tepat waktu. Bahkan waktu bisa dijadikan patokan nama stasiun yang disinggahi. Shinkanzen tak pernah ingkar janji.
Kepadatan masyarakat terpecah, ada yang di dalam bus, ada yang naik trem, ada yang naik monorel, ada yang naik subway, ada pula yang naik ferry di sungai. Itu yang menyebabkan jalanan menjadi lebih “sepi” karena masyarakat terdisitribusi ke berbagai sarana transportasi. Di Jakarta, sudah ada jalur busway yang cukup membuat nyaman masyarakat yang berada di atas bus Trans Jakarta. Namun belum semua jurusan bisa terpenuhi oleh jalur busway, dan sisi lain membuat jalan raya Jakarta semakin menyempit karena sebagiannya dihabiskan untuk jalur busway. Alat transportasi umum yang lebih memasyarakat seperti Kopaja dan Mikrolet, kondisinya belum cukup bagus. Dampaknya, banyak masyarakat lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi seperti mobil atau motor untuk sarana transportasi. Apalagi daerah di luar Jawa, masih banyak daerah bahkan tidak terjangkau sarana transportasi umum.
Sisi lain, aturan dan hukum yang dibuat di berbagai negara maju, bersifat memaksa untuk dilakukan.  Jika seseorang melakukan pelanggaran lalu lintas, dia tidak bisa berkutik karena ada bukti pelanggaran berupa foto saat kejadian. Yang mereka lakukan adalah segera membayar denda, karena jika mereka mangkir, akan menyebabkan catatan kejahatan mereka bertambah. Seseorang akan memiliki catatan pelanggaran dan kejahatan yang pernah dilakukan, baik dalam kaitan dengan pelanggaran di jalan raya, pelanggaran pajak, atau pelanggaran lainnya yang pernah dilakukan. Data kejahatan atau pelanggaran ini akan menjadi pertimbangan saat orang ini melamar kerja, atau ketika akan mengurus sebuah aktivitas yang memerlukan pengesahan dari instansi pemerintah. Oleh karena itu masyarakat berusaha semaksimal mungkin agar tidak berurusan dengan aparat penegak hukum.
Contoh kecilnya adalah tentang tiket kereta api subway. Andai saja kita tidak membeli tiket dan langsung naik kereta api, mungkin saja tidak ketahuan karena memang tidak ada petugas pemeriksa tiket. Namun kadang secara acak ada petugas yang memeriksa tiket penumpang sehingga bisa menemukan adanya pelanggaran penumpang yang tidak bertiket. Kendati pemeriksaan ini bersifat acak dan tidak selalu ada, namun masyarakat lebih memilih menghindari resiko tertangkap basah oleh petugas. Mereka memilih membeli tiket daripada berurusan dengan petugas yang menagkapnya melakukan pelanggaran. Denda yang diberlakukan atas pelanggaran bersifat pasti, dan umumnya tidak bisa negosiasi.
Kita lihat masyarakat “dipaksa” oleh sebuah sistem untuk menjadi tertib dan teratur. Mereka memilih mentaati aturan, walau dengan terpaksa, karena tidak mau berurusan dengan aparat penegak hukum. Tidak mau terkena denda. Tidak mau terkena delik pelanggaran. Tidak mau masuk penjara. Akhirnya mereka memilih mentaati aturan yang berlaku, seperti aturan batas kecepatan maksimal di jalan raya, aturan trafick light, aturan parkir, dan aturan tentang mobil itu sendiri. Mobil harus memiliki bukti lolos uji emisi, yang harus diperbaharui setiap tahun. Mobil harus memiliki asuransi. Mobil harus membayar pajak, dan lain sebagainya aturan  tentang mobil.
Mau tidak mau, suka tidak suka, masyarakat dipaksa menjadi “baik” berdasarkan standar sistem yang dibuat negara bersama masyarakat. Untuk menjadi tertib, teratur dan rapi, ternyata tidak harus menunggu munculnya kesadaran setiap individu. Tidak harus menunggu contoh keteladanan dari para pimpinan. Namun bisa juga muncul dari sistem yang diberlakukan secara ketat dan tidak pandang bulu. Seorang Arnold Schwarzeneger yang menjadi gubernur California, tetap ditangkap dan mendapatkan hukuman denda ketika melakukan pelanggaran di jalan raya. Sama dengan warga California pada umumnya. Itu karena ada aturan dan hukum yang diberlakukan secara konsekuen dan konsisten.
Di negara kita tercinta Indonesia, tidak ada kekuatan yang bisa memaksa warga negara. Kita terlalu berlebihan memahami demokrasi dan hak asasi manusia, sehingga semua aturan harus ditentang dengan demonstrasi dan caci maki atas nama demokrasi dan hak asasi….. Sebaik apapun aturan itu, lawan dulu, hajar dulu, demonstrasi dulu, caci maki dulu…..  Luar biasa demokrasi kita….. Luar biasa tuntutan kita atas hak asasi manusia….  Hingga tak ada lagi yang bisa kita percaya…..
Los Angeles, Maret – Yogyakarta, April 2011
sumber: cahyadi-takariawan.web.id

Realitas Umat Hari Ini

Oleh: Farid Nu’man Hasan
Saat itu, tepat 17 Ramadhan tahun kedua Hijriyah, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memandangi pasukan musuhnya yang berjumlah seribu orang dan pasukan yang dibawanya sejumlah 310 lebih sedikit. Hamba mulia ini memanjatkan doa yang begitu mengharu biru di tengah pasukannya yang amat sedikit dan apa adanya, melawan pasukan kafir Quraisy  yang tiga kali lipat menghadang di hadapan mereka di padang Badar. Dengan menghadap kiblat dan mengangkat kedua tangannya, Beliau berdoa:
“Ya Allah! Penuhilah untukku apa yang Kau janjikan kepadaku. Ya Allah! Berikan apa yang telah Kau janjikan kepadaku. Ya Allah!  Jika Engkau biarkan pasukan Islam ini binasa, … maka tidak ada lagi yang menyembahMu di muka bumi.”
Beliau senantiasa berdoa dengan suara tinggi seperti itu dan menggerakkan kedua tangannya yang sedang menengadah dan menghadap kiblat, sampai-sampai selendang yang dibawanya jatuh dari pundaknya. Lalu Abu Bakar menghampirinya dan meletakkan kembali selendang itu di pundaknya dan dia terus berada di belakangnya. Lalu Abu BakarRadhiallahu ‘anhu berkata:
“Wahai Nabi Allah! Inilah sumpahmu kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia akan memenuhi apa yang dijanjikanNya kepadamu.”
Lalu turunlah firman Allah Ta’ala: “(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.” (QS. Al Anfal (8): 9). (HR. Muslim No. 1763, At Tirmidzi No. 5075, Ibnu Hibban No. 4793. Ahmad No. 208, Ibnu Abi Syaibah, Al Mushannaf, 7/95)
Lalu, terjadilah pertempuran yang sebenarnya tidak seimbang itu, namun karena kekuatan iman, kekuatan ukhuwah, kepemimpinan yang berwibawa, serta ditopang strategi yang jitu, kaum muslimin berhasil memenangkan pertempuran yang disebut dalam Al Quran sebagai “Yaumul Furqan” (Hari Pembeda). Hari yang membedakan antara hak dan batil, antara periode dakwah yang selalu tertindas menjadi dakwah yang disegani.
* * * * *
Syahdan, pada masa khalifah Al Mu’tashim billah (nama aslinya adalah Abu Ishaq Muhammad bin Harun Ar Rasyid), dia berkuasa sejak tahun 218  sampai 227 Hijriyah. Pada masanya, pasukan Islam mampu mengalahkan pasukan Romawi dengan kemenangan besar yang belum pernah terjadi pada khalifah-khalifah sebelumnya. Dia mampu memecahkan pasukan Romawi dan menembus masuk ke negeri Romawi, dan menewaskan 3000 pasukannya serta menawan yang lain sejumlah itu pula. (Imam As Suyuthi, Tarikhul Khulafa’, Hal. 245. Cet. 1. 1425H-2004M. Maktabah Nizar Mushthafa Al Baz )
Tahukah anda apa yang melatar belakangi pertempuran dengan Romawi kala itu? Yakni karena seorang muslimah diperkosa oleh pasukan Romawi. Lalu peristiwa memilukan ini diketahui oleh Khalifah Al Mu’tashim. Maka, demi menjaga kehormatan Islam dan kaum muslimin, Khalifah Al Mu’tashim mengirim pasukan ke Romawi dengan armada pasukan yang sangat besar. Pasukan terdepan sudah sampai di ibu kota Romawi saat itu (yakni Konstantinopel-  Istambul saat ini) sedangkan pasukan paling belakang masih ada di istananya di Baghdad! Ratusan  ribu  pasukan yang dikirim ke Romawi, ada yang meyebut 200 ribu lebih dan ada pula yang menyebut 500 ribu pasukan (Siyar A’lam An Nubala, 10/297), ternyata Romawi menyambutnya dengan peperangan, maka terjadilah pertempuran dahsyat yang dimenangkan pasukan Islam sebagaimana tertulis dalam sejarah Islam masa lalu.
Lihatlah ini! Begitu berdayanya umat Islam, dan begitu tingginya wibawa kaum muslimin, hanya karena seorang muslimah diperkosa, mereka tidak terima dan berbondong-bondong menggedor  Romawi dan berhasil meruntuhkan kerajaannya yang begitu besar dan ditakuti saat itu. Semua berhasil ditekuk dan hanyalah fatamorgana yang tidak berdaya apa-apa di depan  kekuatan iman dan ‘izzah Islam (kemuliaan Islam).
Bandingkanlah dengan dunia Islam saat ini.  Tak berdaya dan tidak berwibawa. Banyak jumlah namun sedikit keberanian, paling jauh hanya demonstrasi ketika melihat saudaranya dianiaya. Bukan lagi satu muslimah diperkosa, tetapi ribuan dijarah kehormatannya, anak-anak dibunuh atau dimurtadkan, mereka diusir dari kampung halamannya, dirampas harta kekayaannya, dan dikebiri perannya dalam percaturan dunia internasional. Kaum muslimin hanya mampu mengecam, mengutuk, dan mengadakan sidang, tetapi tidak ada aksi nyata seperti  Khalifah Al Mu’tashim terhadap Romawi.
Ya, betapa cepatnya langit cerah menuju mendung dan kelam, lalu kapankah cemerlangnya pagi akan datang? Saat itu ada muslimah diperkosa, namun ada Khalifah Al Mu’tashim yang membelanya. Saat ini umat Islam yang tertindas ada di Afghanistan, Palestina, Iraq, Moro di Filipina, Patani di Thailand,  Rohingnya di Cina,  dan belahan Bumi Allah lainnya, tetapi tidak ada pemimpin Islam yang seperti Al Mu’tashim![1]
* * * * *
Uraian di atas hanya sedikit contoh kehebatan kaum muslimin masa lalu. Itu pun dari satu sisi saja, yakni kekuatan dan kewibawaannya. Kita belum membicarakan ketinggian ilmu pengetahuan dan peradaban dunia Islam, untuk itu dibutuhkan banyak halaman untuk menceritakannya.
Saat ini kita hidup di alam nyata umat Islam. Biarlah romantisme masa lalu itu tetap ada dan menghujam dalam dada kita sebagai bekal dan spirit untuk meraih kembali  kejayaan yang hilang itu. Tetapi, kita tidak boleh berlama-lama dalam dunia lamunan, romantisme kejayaan, dan –apalagi- tangisan meratapi puing-puing kehancuran peradaban Islam pasca runtuhnya simbol kekuatan dan pemersatu umat Islam, yakni Khilafah Turki Utsmaniyah pada tahun 1924 M di Turki, yang dihapuskan oleh si musuh Turki (A’da At Turk –inilah istilah yang diberikan ulama turki kepadanya), yakni  Mustafa Kamal. Ada pun sejarawan sekuler menjulukinya Attaturk (Bapaknya Turki).
Realita umat Islam hari ini, jika kita lihat, ternyata terhimpun  menjadi empat penyakit yang mesti disembuhkan dengan cepat. Penyakit itu adalah:
Al Jahlu (Kebodohan)
Apa yang dimaksud kebodohan di sini? Bukankah dunia Islam –sebagaimana dunia Barat- juga memiliki kampus-kampus bergengsi? Anak-anak dan dewasa, pria dan wanita berbondong-bondong menuju bangku sekolah dan kuliah, berbeda dengan masa lalu?
Kebodohan di sini adalah ketiadaan ma’rifah (pengetahuan mendalam) terhadap Rabbdan agamanya. Bisa jadi memang, dunia Islam tidak kalah canggih dan intelek, tetapi itu hanyalah pengulangan kondisi Arab sebelum datang Islam. Dunia Arab sebelum Islam, juga memiliki peradaban tinggi yang terbukti dari kemampuan mereka membuat tata kota yang bagus, pengairan sawah yang baik, serta karya seni bernilai tinggi. Tetapi, sejarah Islam tetap  memposisikan mereka sebagai  era  Jahiliyah. Sebab, keilmuan yang mereka miliki tidak mampu menolong mereka untuk mengetahui siapa Tuhan mereka sebenarnya, justru mereka menyembah dan mengagungkan produk budaya mereka sendiri yaitu berhala-berhala yang indah yang mereka ciptakan.
Perhatikan umat Islam saat ini, umumnya mereka jauh dari agamanya, jauh dari Al Quran dan Sunnah nabinya, tetapi lebih dekat  bahkan sampai taraf memberikan cinta terhadap budaya, pemikiran dan akhlak Barat yang nota bene non muslim yang justru hendak menghancurkannya. Sayangnya mereka tidak sadar.
Hal ini membawa dampak lainnya; masjid yang sepi kecuali shalat jumat, merosotnya moral baik pejabat atau rakyatnya, ibadah hanya menjadi rutinitas kosong belaka tanpa bekas dan pengaruh dalam kehidupan, ulama tidak berwibawa baik ilmu dan perbuatannya, pergaulan bebas remaja, angka perceraian yang tinggi, pornografi dan porno aksi dianggap biasa, dan segudang permasalahan lainnya.   Ini semua berawal dari kebodohan terhadap agama, sebab Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah berjanji bahwa berbagai kebaikan –termasuk kebaikan dalam urusan dunia dan ilmu pengetahuan- akan datang bersamaan dengan pemahaman yang benar terhadap agama.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa yang Allah kehendaki mendapatkan kebaikan maka akan dipahamkan  baginya ilmu agama.”(HR. Bukhari No. 2948, Muslim No. 1037, At Tirmidzi No. 2783, Ibnu Majah No. 220, Ibnu Hibban No. 89, 310, 3401,  Malik No. 1599, Ad Darimi No. 224, 2706, Abu Ya’la No. 7381, Musnad Ishaq No.439, dan lainnya)
Adh Dha’fu (lemah)
Kelemahan umat Islam terdapat pada banyak sisi kehidupan, baik pribadi atau masyarakat. Boleh dikatakan di semua sisi kehidupan. Di antaranya yang bisa disebutkan di sini adalah:
Lemah Aqidah
Aqidah adalah pegangan hidup yang utama dan menjadi fondasi untuk lahirnya  imanul ‘amiq (keimanan yang mendalam); Menjadikan Allah Ta’ala sebagai satu-satunya penolong dari kesulitan hidup dan permasalahnnya. Tidak takut mati, apalagi takut miskin. Sebab seorang yang mengimani Allah Ta’ala sebagai pengatur hidup akan merasa aman dan tentram hatinya ketika menyandarkan dirinya kepada pemilik kehidupan itu sendiri. Berbeda dengan orang yang aqidahnya lemah, dia lebih takut dengan ancaman makhluk dibanding azab Allah Ta’ala. Seperti yang terjadi saat ini, umat Islam (khususnya para pemimpinnya) lebih takut dengan ‘azab’ yang diberikan Amerika Serikat dan sekutunya dibanding azab dari Rabb mereka. Begitu juga ketika sepasang manusia berzina, mereka lebih takut hamil dibanding takut kepada Allah Ta’ala.
Berbeda dengan Sumayyah, seorang wanita yang mati syahid dan menjadi syahid pertama dalam Islam. Dia tetap memegang teguh agama tauhid walau mengalami penyiksaan yang membuatnya dibunuh secara keji.
Berbeda dengan Bilal bin Rabbah, seorang sahabat nabi yang disiksa dengan ditindih batu besar pada siang yang amat panas, agar ia mau keluar dari agama Islam dan kembali mengakui ketuhanan kolektif Arab jahiliyah. Tetapi dia tetap dalam keimanannya, dan mengatakan; “ahad .. ahad .. ahad … (Yang Maha Tunggal (Esa) ….)
Berbeda dengan Masyithah, seorang wanita pelayan di istana Fir’aun yang tetap teguh menyembah Allah Ta’ala dan menolak pengakuan ketuhanan Fir’aun. Dia bersama keluarganya direbus hidup-hidup untuk mempertahankan aqidahnya.
Ya, kita berbeda dengan mereka. Begitu sabar dan teguhnya aqidah mereka …
Lemah Ekonomi
Pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz, kaum muslimin benar-benar merasakanbaldatun thayyibatun (negeri yang  makmur). Sampai-sampai Srigala menyusu kepada Domba, padahal domba adalah mangsa Srigala! Saat itu, pemerintah kesulitan mencari faqir miskin untuk menerima zakat, akhirnya harta zakat disalurkan ke negeri-negeri non muslim.
Pada masa Khalifah Harun Al Rasyid, dia pernah keluar dari istana sambil menatap langit yang sedang mendung:
“Ya Allah, turunkanlah hujan di mana Engkau mau. Jika Kau turunkan di Barat maka itu adalah negeri kami, jika Kau turunkan di Timur itu juga negeri kami.”
Apa yang dikatakannya melambangkan kemakmuran negeri Islam yang merata dan begitu luas. Sehingga dua khalifah ini termasuk deretan para khalifah yang paling sering disebut namanya setelah empat khulafa’ur rasyidin.
Kemandirian ekonomi adalah salah satu penopang kekuatan, dan Islam sangat menekankan hal itu. Seorang yang berhutang biasanya akan mengalami penurunan kekuatan. Daya kritis, kemandirian, dan sebagainya akan mudah didikte oleh orang yang memberinya hutang. Negara-negara miskin –kebanyakan negara muslim- mudah sekali dikendalikan oleh kekuatan asing yang menjadi donor bagi dana pembangunan negerinya.
Maka, wajar kalau Islam tidak menyukai kefaqiran. Hal ini terbukti dari berbagai doa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang  diajarkan untuk umatnya berisi perlindungan  dari kefaqiran.
Diantaranya:
اللهمّ إني أعوذ بك من الكفر والفقر
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari kekafiran dan kefaqiran.”(HR. Abu Daud No. 5090, Ibnu Hibban No. 1026, An Nasa’i No. 1347, Ibnu Khuzaimah No. 747, Ahmad No. 20381, Al Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, 3/251. Syaikh Al Albani mengatakan: shahih. Lihat Shahih wad Dhaif Sunan An Nasa’iNo. 1347 )
Doa lainnya:
اللهم إنِّي أعوذ بك من الهمِّ والحزن، وضلع الدين ، وغلبة الرجال
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari gelisah dan sedih, dan lilitan hutang dan tekanan manusia.” (HR.   Bukhari No. 2736, 6002,  At Tirmidzi No. 3484,  Abu Daud No. 1541, An Nasa’i No.5476, Abu Ya’la No. 3695, 4003, Ibnul Ju’di No. 2908)
Lemah Propaganda
Dunia propaganda, melalui media elektronik seperti TV, Radio, dan internet, atau media cetak seperti majalah dan buku, ternyata telah melampaui batas fungsinya sebagai jendela informasi bagi manusia. Saat ini sarana ini telah dijadikan alat untuk memojokkan Islam dan kaum muslimin.  Media Barat telah menggiring opini dunia  untuk menyebutnya sebagai teroris, agama pedang, penindas kaum wanita, dan sebagainya. Begitu kuat jaringan mereka, satu sama lain saling membantu.
Orang shalih bisa jadi buruk lantaran diberitakan buruk, dan orang jahat bisa menjadi pahlawan karena diberitakan sebagai pahlawan. Inilah keajaiban propaganda. Dan, sayangnya tidak sedikit umat Islam yang terpukau dan termakan oleh isu dan hasutan yang mereka buat. Kita selalu meng-iya-kan kata mereka. Persis yang Al Quran katakan:
Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata, kamu mendengarkan perkataan mereka. (QS. Al Munafiqun, 63: 4)
Sementara umat Islam belum memiliki kantor berita yang menjadi media rujukan utama sebagai penyeimbang. Jangankan secara internasional, secara nasional pun belum ada, sekali pun ada hanya menjangkau lapisan yang sangat ekslusif dan terbatas. Wal hasil, tidak ada pilihan lain akhirnya mereka menjadikan media Barat sebagai rujukan, walau mereka telah tahu bahwa media tersebut tidak akan pernah objektif dan adil ketika berhadapan dengan kepentingan Islam dan kaum muslimin.
Adz Dzullah (Direndahkan)
Ini merupakan efek domino yang otomatis dari kebodohan dan kelemahan, sebab tidak ada orang bodoh dan lemah yang memiliki wibawa dan kehormatan.
Lihatlah dunia! Mereka ramai menyalahkan pemerintah Indonesia ketika kasus di Timor Timur (sekarang Timor Leste), bahkan mereka mengintervensi sehingga propinsi ini lepas dari Indonesia. Papua pun sedang mengalami hal yang sama. Begitu mudahnya negeri muslim diobok-obok oleh kekuatan asing.
Ketika kedung kembar WTC (World Trade Center) ditabrak oleh dua pesawat yang tidak jelas siapa pelakunya. Bahkan, CIA tidak berani memastikan. Namun, Amerika Serikat dengan kesombongannya langsung menyalahkan pemerintah Taliban di Afghanistan, sebuah negeri miskin dan terbelakang. Afghanistan diserang oleh tentara AS tanpa peduli protes dunia muslim dan mereka yang masih punya nurani kemanusiaan.
Begitu pula yang terjadi Iraq,  presidennya dijatuhkan oleh kekuatan negara lain, bukan kekuatan yang berasal dari rakyatnya sendiri. Umat Islam dunia juga tidak berkutik.
Jalur Gaza akhir 2008 dan awal 2009. Negara Zionis Yahudi menyerang Gaza sebuah kota kecil yang hanya dijaga oleh milisi mujahidin HAMAS yang tidak seberapa banyak. Umat Islam yang setengah miliar di timur tengah, diacak-acak oleh kebiadaban tentara Zionis di sana. Mereka hanya menonton, menangis, atau demonstrasi. Bahkan mayoritas umat ini tidak peduli karena sibuk dengan dunianya masing-masing. Kemana umat Islam? Kemana pemimpin kaum muslimin? Kemana Al Mu’tashim abad modern? Kemana satu setengah miliar umat Islam?
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
“Hampir datang masanya bangsa-bangsa mengerumuni kalian sebagaimana mengerumuni makanan di atas meja makan.” Ada yang bertanya: “Apakah saat itu kita sedikit?” Beliau menjawab: “Justru saat itu kalian  banyak, tetapi laksana buih di lautan. Allah telah mencabut rasa takut dalam dada musuh-musuh kalian terhadap kalian, sedangkan Allah telah melemarkan ke dalam hati kalian penyakit Al Wahn,” Ada yang bertanya: “Apakah Al Wahn?” Beliau menjawab: “Cinta dunia dan takut mati!” (HR. Ibnu Majah No. 4297, Ahmad No. 22397, Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: sanadnya hasan. Syaikh Al Albani menshahihkan dalam As Silsilah Ash Shahihah No. 958)
Al Furqah (Perpecahan)
Seharusnya perbedaan dapat dijadikan khazanah yang baik. Islam tidak mencela perbedaan. Ia hanya membenci perpecahan. Berbeda belum tentu berpecah, sedangkan berpecah sudah pasti  berbeda.
Perbedaan memang hal yang niscaya dan pasti ada. Allah Ta’ala berfirman:
Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu.. (QS. Huud: 118-119)
Imam Hasan Al Bashri Radhiallahu ‘Anhu mengatakan: “Dan Allah menciptakan mereka untuk perbedaan.” (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 4/362. Dar Ath Thayyibah Lin Nasyr wat Tauzi’)
Dalam potongan hadits yang cukup panjang Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa sallambersabda:
“Barangsiapa diantara kalian yang hidup setelah aku, maka dia akan melihat banyak perselisihan ..” (HR. At Tirmidzi No. 2816, katanya: hasan shahih. Ad Darimi No. 95, Ibnu Majah No. 43, Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 20125, Ibnu Hibban, Bab Maa Ja’a Al Ibtida bihamidallahu Ta’ala,  No. 5, Ahmad No. 17142. Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata; hadits shahih dengan banyak jalur dan penguatnya)
Namun demikian, walau perbedaan itu pasti ada dan ini sudah diisyaratkan jauh-jauh hari, Islam tetaplah mencela perpecahan dan mengharamkannya di antara kaum muslimin.
Allah Ta’ala berfirman: “Dan berpegang teguhlah kepada tali (agama) Allah kalian semua, dan janganlah berpecah belah ..” (QS. Ali Imran (3): 103)
Inilah penyakit yang mengerikan, sebab dia menghancurkan dari dalam seperti kanker yang menggerogoti tubuh manusia. Sesungguhnya umat Islam tidak pernah takut akan ancaman dari luar karena mereka sudah mengantisipasi dengan semangat jihad fisabilillah. Tetapi yang justru dikhawatirkan adalah hancurnya umat Islam dari dalam, yakni ketidakmampuan mereka dalam meredam perselisihan dan mengolah perbedaan. Akhirnya, musuh-musuh Islam bertepuk tangan sementara kita sibuk bercakaran. Mereka pun berkata; “Terima kasih wahai umat Islam, tugas kami memecah belah kalian sudah diselesaikan oleh kalian sendiri!”
* * * * *
Demikianlah penyakit umat Islam kontemporer dan kita harus tersadari olehnya. Tentunya harus dicarikan solusi yang jitu dengan tanpa melahirkan penyakit baru. Bagaimana itu?
Ringkasnya, sebagaimana kata Imam Malik Radhiallahu ‘Anhu: “Umat ini tidak akan jaya kecuali dengan cara pertama kali  ia dijayakan  genarasi awalnya.”
Yaitu dengan iman, ilmu, ukhuwah islamiyah yang solid, dan ruhul jihadiah (semangat juang) yang tidak terputus. Sehingga umat Islam menjadi cerdas tidak bodoh, kuat tidak lemah, berwibawa tidak direndahkan, dan solid tidak berpecah.
Wallahu A’lam wa Ilaihi Musytaka …

[1] Namun, Al Mu’tashim memiliki kesalahan ketika menyiksa Imam Ahmad bin HambalRahimahullah, tetapi dalam sisi pembelaannya terhadap kaum muslimin, dia patut dibanggakan. Berkata Imam Adz Dzahabi Rahimahullah: “Al Mu’tashim, dahulu adalah termasuk di antara khalifah yang paling agung dan paling pemalu di antara mereka, seandainya saja dia tidak mengotori kekuasaannya lantaran menyiksa ulama dalam masalah kemakhlukan Al Quran.” (Imam As Suyuthi, Tarikhul Khulafa’, Hal. 244)
sumber: intimagazine.wordpress.com

Profil Wanita Muslimah Ideal

Wahai ukhti muslimah, pernahkah terbersit dalam benakmu sebuah pertanyaan penting: Bagaimanakah karakteristik muslimah ideal itu?
Jawaban dari pertanyaan ini dapat kita temukan diantaranya dari lembaran sejarah generasi unggul, para muslimah alumnus madrasah kenabian: Asma binti Abu Bakar, Fatimah binti Khattab, Sumayyah, Asma binti Umais, Shafiyah binti Abdul Muthalib, Asy-Syifa binti Abdullah, Asma binti Yazid, dlsb.
Madrasah kenabian telah melahirkan generasi unggul dalam hal akhlak, prestasi, dan kemulian. Para alumnusnya terbentuk menjadi manusia-manusia teladan sepanjang zaman, dengan karakternya yang unik. Baik dari kalangan lelaki, maupun perempuan. Mereka laksana bintang-bintang di angkasa, mengukir dunia dengan keimanan, ketangguhan, sepak terjang, semangat, ilmu, dan pengabdiannya pada kebenaran Islam.
Tentang mereka, Allah SWT berfirman:
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. (QS. Ali Imran, 3: 110).
Orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. At-Taubah, 9: 71).
Diantara sifat dan keteladanan yang ditunjukkan para shahabiyah yang harus kita contoh adalah:
Kesabaran mereka dalam mendukung dakwah
Anda tentu mengetahui Asma binti Abu Bakar[1] yang dijuluki Nabi sebagai dzaatun nithoqoin (sang pemilik dua ikat pinggang), karena ia telah membelah ikat pinggangnya menjadi dua bagian untuk membawa dan menyembunyikan makanan dan minuman yang akan diantarkannya kepada Rasulullah SAW  bersama Abu Bakar ke gua pada hari hijrahnya.
Asma pernah merasakan penyiksaan dari musuh Allah, Abu jahl, yang datang kepadanya untuk menanyakan tempat persembunyian ayahnya. Namun Asma memilih tutup mulut, sehingga hal ini membuat Abu Jahl  marah, lalu menempelengnya dengan keras hingga anting-anting Asma terlempar dari telinganya.
Selain itu, sejarah mencatat wanita mulia lainnya, Ummu Hakim[2].  Ia rela menempuh perjalanan panjang dengan sedikit bekal, bermaksud menyusul suaminya Ikrimah bin Abu Jahl yang melarikan diri selepas futuh Makkah. Atas kehendak Allah, ia dapat bertemu suaminya yang saat itu sudah sampai di pantai dan bersiap-siap naik kapal. Ummu Hakim mengajak suaminya agar berislam, ia jelaskan kesempurnaan Islam dan keluhuran budi Rasulullah SAW, sehingga tumbuhlah benih-benih kebaikan dalam jiwa Ikrimah.
Anda tahu kisah Ummu Syarik[3]? Sejak iman telah merasuk ke dalam hatinya dan menyadari kewajiban agamanya yang lurus, dia pun mengisi hidupnya untuk menyebarkan dakwah tauhid. Dia memulai dakwahnya dengan mendatangi para wanita Quraisy secara sembunyi-sembunyi. Setelah melakukan dakwah secara bergerilya beberapa lama, penduduk Makkah kemudian menangkapnya dan menyerahkan kepada keluarganya. Ummu Syarik kemudian disiksa oleh keluarganya dengan cara dijemur di bawah terik matahari selama tiga hari dan dipaksa meninggalkan Islam. Dalam kondisi payah, dimana pikiran, pendengaran dan penglihatannya seolah-olah telah hilang, ia hanya bisa menjawabnya dengan isyarat jari ke langit sebagai ungkapan tauhid. Dalam kondisi seperti itu Allah menurunkan karamahnya, tiba-tiba Ummu Syarik melihat ada satu timba yang turun dari langit berisi air sejuk menggelantung di hadapannya hingga ia bisa minum sampai puas dan menyiramkan air itu ke atas kepala, wajah, dan pakaiannya.
Kesabaran menghadapi kesulitan hidup
Sifat dan keteladanan dalam menghadapi kesulitan hidup ditunjukkan Asma binti Abu Bakar yang sabar hidup serba kekurangan bersama suaminya Abdullah bin Zubair. Ia rela membantu pekerjaan suaminya merawat kuda dan memasak. Ia biasa mengangkut kurma di atas kepalanya dari kebun yang jaraknya sejauh 2/3 farsakh dari rumahnya (1 farsakh kurang lebih 8 km).
Memiliki Keterampilan
Wanita-wanita alumnus madrasah kenabian, bukanlah wanita-wanita pasif. Mereka memiliki bidang keahlian atau keterampilan hidup yang sesuai dengan zamannya. Ummu Kultsum[4] memiliki keterampilan kebidanan. Shafiyah binti Abdul Muthalib[5] dikenal sebagai wanita yang pandai bersyair. Ia pun sering terlibat dalam peperangan untuk mengobati pasukan yang terluka bersama muslimah lainnya seperti Asma binti Yazid, Ummu Sulaim, Ummu Haram, dll. Asy-Syifa binti Abdullah adalah wanita yang pandai menulis dan mampu mengajarkannya pada para muslimah-muslimah lain.
Aktif terlibat dalam jihad fi sabilillah
Pada masa Nabi, bukan hanya kaum pria saja yang terjun ke medan jihad. Para wanita pun turut andil di dalamnya sesuai dengan kemampuannya. Shafiyah binti Abdul Muthalib turut serta dalam perang Uhud, Khandaq, dan Khaibar sebagai pengobar semangat dan merawat yang terluka. Bahkan dalam Perang khandaq ia berhasil membunuh seorang Yahudi yang mengintai dan mengancam keselamatan para wanita di Madinah. Hal ini dilakukannya setelah Hasan bin Tsabit merasa enggan melakukannya.
Masih ada lagi sederet daftar nama para wanita muslimah yang terlibat dalam jihad fi sabilillah: Asma binti Yazid terjun di perang Yarmuk dan berhasil membunuh 9 orang tentara Romawi. Ummu Haram binti Milhan[6] turut dalam perang Cyprus dan gugur dalam perjalanan pulang. Ummu Hakim binti Al-Harits terlibat dalam pertempuran di Marjus Shafar dan berhasil membunuh 7 orang tentara Romawi sebelum mati syahid. Ummu Umarah (Nasibah binti Ka’b) turut dalam perang Uhud dan mendapatkan 13 luka. Sedangkan dalam peperangan penumpasan Musailamah Al-Kadzab dan pengikutnya ia mendapatkan 12 luka.
Berilmu
Aktivitas belajar mengajar adalah aktivitas yang juga digemari para shahabiyah. Sehingga mereka menjadi orang-orang yang berilmu.
a.       Pada masa-masa awal Islam, Fathimah binti Khatab bersama suaminya Sa’id bin Zaid belajar Al-Qur’an kepada Khabbab bin ‘Arat.
b.      Asma binti Yazid adalah shahabiyah yang dikenal rajin menyimak hadits-hadits Nabi dan paling berani bertanya tentang masalah-masalah agama. Ia juga sering dijadikan jubir kaum wanita untuk bertanya pada Nabi. Diantara perkara yang pernah ditanyakannya pada Nabi adalah masalah jihad bagi kaum wanita.
c.       Ummu Waraqah[7] adalah penghafal quran yang baik bacaannya. Karena itu ia diangkat Nabi menjadi imam bagi kaum wanita.
d.      Asy-Syifa binti Abdullah selain pandai menulis ia pun banyak belajar hadits dan sering diminta pendapat oleh Khalifah Umar bin Khattab dalam berbagai persoalan. Bahkan pada masa kekhalifahan Umar, Asy-Syifa binti Abdullah diangkat menjadi manajer pasar Madinah.
e.       Rubayyi binti Muawwidz[8] adalah adalah salah seorang muslimah yang menjadi rujukan para sahabat senior dalam masalah hadits-hadits Nabi.
Berani menuntut keadilan
Sikap dan keteladanan dalam hal ini ditunjukkan Khuwailah binti Tsa’labah yang terkenal dengan kasus dzihar yang menyebabkan turunnya awal surat Al-Mujadilah.
Menjadi partner suami yang baik dalam rumah tangga
Sebelumnya sudah disebutkan, bahwa Asma binti Abu bakar biasa turut membantu pekerjaan rumah tangga: memberi makan kuda, menumbuk kurma, mengambil air, memasak roti, dan mengangkut kurma. Semuanya itu dilakukannnya dengan sabar atas dasar keimanan dan ketaatan pada Allah SWT.
Ummu Sulaim[9] mampu menjadi penyeimbang suaminya, Abu Thalhah, dalam menghadapi musibah. Kisahnya yang terkenal adalah ketika anak mereka yang masih balita, Abu Umair, meninggal dunia karena sakit. Ummu Sulaim menghadapi kematian anaknya dengan sabar dan ridha. Ia kemudian meminta kepada keluarganya untuk tidak memberitahukan terlebih dahulu berita kematian Abu Umair kepada Abu Thalhah yang sangat menyayanginya.
Saat Abu Thalhah pulang dan bertanya keadaan Abu Umair, Ummu Sulaim menjawab:“Dia lebih tenang daripada sebelumnya.”. Abu Thalhah merasa gembira karena mengira anaknya sudah sembuh. Ummu Sulaim kemudian menghidangkan makan malam yang lezat, setelah itu ia bersolek melebihi biasanya dengan memakai pakaian, perhiasan, dan wangi-wangian yang terbaik hingga Abu Thalhah tertarik dan mengajaknya berjima’.
Ummu Sulaim melakukan itu karena tidak ingin melihat suaminya bersedih. Dia ingin agar suaminya tidur nyenyak. Barulah di akhir malam ia bertanya pada suaminya: “Wahai Abu Thalhah, bagaimana pendapatmu bila suatu kaum meminjami sesuatu kepada suatu keluarga, lalu kaum itu meminta kembali pinjamannya. Bolehkah keluarga tadi menahannya?” Abu Thalhah menjawab: “Tentu saja tidak boleh.”. Ummu Sulaim bertanya lagi: “Apa pendapatmu jika keluarga itu sangat keberatan untuk dimintai mengembalikan pinjaman tersebut setelah mereka keenakan memanfaatkannya.”Abu Thalhah kemudian berkata: “Tidak, menahan separonya pun tentu tidak boleh.”Ummu Sulaim berkata: “Sesungguhnya anakmu adalah titipan Allah dan kini Allah telah mengambilnya, maka relakanlah anakmu.”
Dalam hal ini, Ummu Sulaim telah mengajarkan kepada setiap pasangan hidup, bahwa sebagai suami istri hendaknya mereka saling menopang dan menguatkan dalam menghadapi suka duka kehidupan.
Jangan lupa, menjadi partner yang baik itu bukan hanya dalam hal pekerjaan rumah tangga atau dalam hal menghadapi peristiwa-peristiwa penting dalam kehidupan keluarga. Dalam perkara ‘sepele’ sekali pun, misalnya dalam perkara jima’ (berhubungan intim), kita harus berusaha memposisikan diri menjadi partner yang baik. Hal ini dicontohkan Asma binti Umais yang pandai menyenangkan suami dalam hal menikmati kehidupan seksual, sehingga suaminya, Ali bin Abu Thalib, pernah berkata: “Kalian keliru jika beranggapan bahwa tidak ada perempuan yang syahwatnya bergelora. Tidak ada perempuan yang mempunyai sifat demikian, selain Asma binti Umais.”
Semoga kita dapat meneladani wanita-wanita mulia ini.
Maraji: Nisaau haula rasul karya Mahmud Mahdi Istanbuli dan Musthafa Abu Nashr Asy-Syilbi

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates